Kamis, 02 Mei 2013

ILMU RASA SEJATI



ILMU RASA SEJATI


            Pada dasarnya semua ajaran yang benar banyak cara dan jalan, Tuhan tidak membatasi satu bahasa atau golongan tertentu, dan semua itu di sesuaikan dengan keadaan. Kalau suatu daerah A dituruni ajaran dengan bahasa B, akan tidak ketemu, karena untuk memahami maksut dan tujuannya saja sudah sulit, karena Tuhan sangat bijaksana dan adil ajaran akan disesuaikan untuk mudah dimengerti dan dilaksanakan, Cuma kadangkala orang sering memaksakan kehendaknya sendiri untuk menarik orang lain masuk ke dalam golongannya. Ajaran panunggal yang benar, walaupun disampaikan dengan cara dan bahasa yang berbeda, mempunyai persamaan isinya, ibaratnya daun sirih bagian atas dan bawahnya, walaupun beda warnanya tapi kalau digigit sama rasanya, Cuma seperti orang yang berjalan walaupun jalannya sama dan garis awal dan ahirnya sama, bisa sampai dengan cepat atau tidak tergantung para umat yang menjalankannya sendiri. Semua pekerjaan selesai atau tidak harus didasari niat yang kuat disertai pengorbanan, karena tekat saja tidak ada manfaatnya kalau tidak dilakukan dengan kerja nyata, yaitu pengorbanan.
Dapat di ibaratkan pak tani yang menanam padi, bisanya akan menuai padi harus ditebus dengan beberapa tahap pengorbanan, dari memilih bibit, menyebar benih, memelihara tanaman supaya selamat, tidak mengeluh kalau kepanasan dan kehujanan, sabar dan iklas menunggu padi, sampai menuai hasilnya, selama perjalanan pengobanan itu benar-benar menjalankan kewajibannya dengan baik maka padinya akan selamat, ahirnya pak tani bisa memanen hasilnya. Seperti halnya manusia dalam perjalanan menjalani ajaran Tuhan, bisa menjalankan kewajibannya dengan benar atau tidak, kalau tidak akan menuai hasil yang buruk, ahirnya masuk kealam kesengsaraan. Perjalanan tidak bisa dengan jalan yang cepat karena hidup memerlukan proses.

Pencarian ilmu kenyataan atau ilmu rasa sejati, yaitu menjalani ajaran ilmu kasuksman, ke Allah-an atau kebatinan, yang akan menuntun kedalam keselamatan dan ketentraman hidup, tidak terbatas waktu dan tempat. Ada yang cepat dan ada yang lambat, bahkan sampai mati tidak mendapatkannya, semua tergantung bagaimana mengolah rasanya. Banyak jalan terjal, berbelok dan persimpangan, kalau salah memilih tidak akan sampai ditujuan, pada orang-orang tertentu sampai menjalani ritual yang berat-berat, kungkum dimata air, tidur di makam keramat atau kepantai selatan untuk meminta pertolongan dari makluk ghaib, semua itu tidak akan ketemu selamanya, karena ilmu ke Tuhanan ajarannya untuk mengatur perilaku sehari-hari. Contohnya, ada seorang yang mempunyai hutang banyak, dia pergi ke tempat keramat atau mencari pertolongan ghaib untuk menyelesaikan masalah, ini tidak akan berhasil, dari pada meninggalkan rumah anak dan keluarganya lebih baik bekerja dengan iklas dan tekun, hasilnya akan bisa untuk membayar hutangnya. Kalaupun ia mendapatkan pertolongan dari ghaib pasti ada perjanjiannya, pada golongan ini sudah masuk jalan sesat menyimpang dari ajaran keTuhanan.
Panunggal ada beberapa cara:

  1. 1.    Manunggal dengan cara meditasi, atau tafakur (makrifat di Gusti)
  2. 2Manunggal dengan perbuatan dan perilaku mencari keiklasan
  3. Manunggal dengan sifat-sifat Tuhan
  4. Menunggal dengan mengolah rasa untuk mengatasi kesombongan menonjolkan sifat “aku”nya

Keadaan para pencari kemanunggalan sejati, dapat digambarkan seperti “warangko manjing curigo” atau “kodok ngemuli lenge”, yang mempunyai maksut angrogo sukmo, atau berbadan suksma yaitu pamoring kawulo gusti. Ada yang menganggap orang yang angrogo sokmo itu suksmanya keluar dari badan, dan mengetahui dan melihat badannya tidur. Untuk dimengerti itu anggapan yang salah dan salah jalan. Namanya manunggal itu tidak berupa itu, tapi tingkah laku dab perbuatannya sesuai dengan sifat-sifat ketuhanan, yang berdasarkan petunjuk yang diterima rasa dan diterjemahkan dengan perilaku sehari-hari berdasarkan budi pekerti yang mulia.
            Ada kalanya seseorang paranormal atau kyai yang memberikan wejangan dengan kata-kata yang tinggi-tinggi yang dikembang-kembangkan, memilih orang yang bisa menerimanya, juga member keterangan bagaimana keadaan yang nyata sampai dengan kemanunggalan, bagi orang yang cerdas dan cerdik di budi pekertinya, bisa membedakan keterangan yang menyesatkan dan kebenaran, bagi yang bodoh sudah merasa puas dengan cara cara penebusan dosa saja, terus merasa suci dan membanggakan diri sudah ketemu pencarian tujuan hidup, sehingga si bodoh tidak mau belajar dan manembah terhadap Tuhan dan menjalankan perbuatan budhi darma. Kadangkala meremehkan para pencari kebenaran karena merasa lebih baik. Keadaan si bodoh ini diibaratkan orang buta yang tahu jalan, jadi sebenarnya sangat disayangkan karena jalannya terlunta-lunta dan kesasar.
Diantara kyai atau guru klenik, memberi wejangan ilmu kasampurnan atau ada yang menyebut ilmu tua kepada murid-muridnya dengan upacara dan syarat-syarat tertentu, seperti menggunakkan kenduri dengan ayam ingkung ayam jago putih mulus, pisang raja, suruh, sejumplah uang yang sudah ditentukan, sewaktu diwejang harus duduk di kain putih, terkadang ditutupi dengan kain kebaya atau mori putih, sedangkan waktu wejangan setelah tengah malam, di halam rumah yang tidak tertutup atap, muridnya menghadap barat, gurunya menghadap timur, adan ada beberapa wejangan ditengah sungai berendam di air, yang mejang dengan cara berbisik-bisik dengan kata-kata campur aduk arab dan jawa, dan bahasa lainnya yang tidak mudah dimengerti maksut dan artinya, ilmu yang diberikan mereka sebut ilmu pagedongan, ilmu sangu mati, ilmu yang tidak boleh sembarang diucapkan, siapa yang menjalankan ini akan menjadi sempurna matinya, dan sang guru memberikan pemahaman dan doktrin pemahaman seperti itu kepada muridnya. Cara-cara ini salah total.
Kalau mau menelaah berdasarkan kewaspadaan dan kebijaksanaan, ilmu yang dibeberkan oleh sang guru tersebut bukan ilmu yang benar, karena sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karenaajarannya bukan dari pencerahan dan petunjuk Tuhan yang sejati. Ilmu yang benar adalah jalan menuju kenyataan sejati harus berdasarkan petunjuk dari Tuhan melewati rasa sejati yang jadi utusannya Tuhan, yaitu sang guru sejati, yang penting, berbakti, yakin dan setia menjalankan ajaran Tuhan. Bekal yang akan dibawa kembali ke Asal mulanya hidup hanya kesucian.

Ajaran-ajaran ini diterangkan dengan mudah, tapi sangat sulit dilakukan karena banyak halangan dan godaan, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa sampai pada kenyataan jati diri, tapi kita boleh berputus asa untuk mencarinya. Cirri-ciri yang sudah menemukan pencerahan hidup atau kenyataan hidup yang sejati adalah :
1.    Perilakunya membuat orang trenyuh
2.    Ramah tamah kepada siapa saja
3.    Perilakunya santun
4.    Sedikit bicara, bila mengucap sabar dan hati-hati
5.    Kalau bicara tenang dan mantap tanpa ragu
6.    Pandangannya ramah tapi berwibwa
7.    Tajam sorot matanya
8.    Sederhana berpakaian
9.    Sederhana hidupnya dan berbudi luhur
10. Kesabarannya seperti samudera
11. Banyak toleransi dan pemaaf serta berbuat adil kepada siapa saja
12. Welas asih kepada siapa saja
13. Menjalankan kewajiban hidup dengan perilaku yang benar
14. Menghormati semua agama dan keyakinan yang berbeda
15. Setia terhadap undang-undang Negara
16. Tidak membeda-bedakan derajat, golongan, bangsa, perempuan atau laki-laki, tua atau muda
17. Semua dirangkul bersama tapi tidak meninggalkan tata karma
18. Tidak meninggalkan tata cara hidup bermasyarakat didunia
19. Saling hormat menghormati dengan sesame
20. Tidak merubah nama diganti yang mahsyur supaya dipuja-puja orang
21. Tidak meninggalkan kewaspadaan  dan kesadaran hidup.

Sebenarnya ilmu rasa ini tidak bisa mudah diterangkan dengan kata-kata, ibaratnya bagaikan menulis buku dengan tinta samudera, yang menjadi penghalang rasa adalah sebagai berikut :
1.    Bahagia sedih
2.    Ragu-ragu dan kawatir
3.    Fikiran yang tidak bisa tenang
4.    Takut
5.    Rasa kesengsaraan
6.    Terkucilkan atau dipuji-puji
7.    Perilaku yang berlebih-lebihan

Sejatinya hidup adalah yang menghidupi semua sifat hidup,  maka terasa manunggal semuasifat hidup, yang merasuki disemua berujut nyata, yaitu alam seisinya, yang tidak terbatas waktu dan tempat, jauh atau dekat, banyak atau sedikit. Seperti itu orang yang sudah menemukan ilmu rasa sejati.
Seringkali banyak orang yang mengira dan menganggap kalau orang yang sudah sampai ketahap ilmu kasunyatan atau ilmu roso sejati akan menyingkirkan diri dari kemasyarakatan, yang berdiam diri di puncaknya gunung, tempat yang sepi, masuk dalam gua, atau ditengah hutan, bertapa dan tidak bekerja untuk memenuhi keperluan hidupnya, mengajarkan kesaktiannya dan keahlian-keahlian ghaib seperti :

1.    Bisa tidak terlihat, bisa berubah-ubah ujud, tidak mempan kena senjata tajam atau peluru, tidak mempan dibakar atau yang lainnya
2.    Bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit
3.    Bisa mengetahui kejadian yang akan terjadi, menebak perjalanan nasib orang yang akan terjadi atau sebagainya.

Keyakinan dan kepercayaan seperti itu salah, karena ilmu rasa sejati tidak seperti itu, orang yang sudah sampai pada rasa sejati tidak pamer dan mengajarkan seenaknya sendiri, karena orang yang tahu hanya orang-orang tertentu yang sudah sampai ketaraf ini. Maka kalau ada orang yang mengadakan atau mengaku pada taraf ilmu roso sejati, mendeklarasikan sebagai wiku, pandito, eyang yang nama dan sebutannya berlebihan seperti Kyai ageng, maha guru, panembahan dan sebagainya, jangan cepat percaya dan berguru kepadanya, walaupun mempunyai kemampuan yang bermacam-macam, belum tentu menuntun kejalan keselamatan dan ketentraman hidup, apalagi menyimpang dari ajaran hidup. Lebih-lebih sang kyai atau guru  tingkah lakunya hanya mencari sensasi, ingin terkenal, mencari kekayaan itu tandanya belum menempati dan mempunyai budhi luhur yang menjadi tahapnya manunggal rasa jati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar