WISATA RELIGI


Petilasan kebo kanigoro


Petilasan Kebo Kanigoro terletak di desa Samiran, kecamatan Selo, Jaman dahulu merupakan tempat bertapanya Kebo Kanigoro yang berupa cekungan, beliau adalah anak dari Kyai Pengging Sepuh atau yang terkenal dengan nama Prabu Handayaningrat yang makamnya di daerah sekitar pengging, mempunyai saudara yaitu Kebo Kenongo dan Kebo Kanigoro, mempunyai anak murud bernama Maeso Jenar yang mempunyai sebutan Ronggo Toh Joyo yang menjadi senopati perang jaman kejaan Demak Bintoro semasa pemerintahan Joko tingkir.











 Daerah petilasan syech Magriby

 Syech Magriby adalah 9 wali Allah pada jaman penyebaran agama Islam pertama kali di tanah Jawa, menurut sejarah pada masa kerajaan Majapahit atas pemerintahan Browijaya ke V, Beliau seangkatan dengan Syech subakir yang terkenal dengan membuat paotk tanah jawa yang diletakkan di gunung Tidar daerah kabupaten magelang untuk dijadikan tolak  bala atau penghalau bahaya, yang digunakkan sebagai patok atau pancang berupa batu hitam yang diambil dari kerajaan Istambul, Sekarang terkenalnya dengan dengara Irak. Petilasan Syech Magriby ada beberapa tempat, selain di Pantai Parang Kusumo Yogyakarta, di desa Candisari ini adalah salah satunya, daerah ini sangat sejuk karena di lereng gunung Merbabu sebelah timur dengan ketinggian3142 m ditas permukaan laut.





 Pertapaan syech magriby







Makam Kyai Ageng Singo Prono


Makam Singo prono ini terletak di puncak gunung Tugel didesa Nglembu, kecamatan Simo, beliau mempunyai istri yang bernama Tasik Wulan, yang dimakamkan di desa Krisik..















Makam Pujangga Yoso Dipuro


Makam R Ngabehi Yoso Dipuro terletak di kampung Bendan, Desa pengging, kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa tengah, beliau lahir pada hari Jum'at Pahing tahun 1729 keturunan dari RT Padmonagoro dan RA Siti Mariyam yang pada masa mudanya ayahnya salah satu prajurit dari Sultan Hanyokro Kusumo dan ikut berjuang melawan belanda, karena jasa-jasanya diangkat menjadi bupati Tegal, semasa lahir beliau masih dibungkus plasenta dan lehernya dililiti usus, nama kecilnya Bagus Banjar, Joko Subuh karena lahirnya menjelang pagi, oleh kakeknya Kyai Kholipah Caripu diberi nama Jaenal Ngalim untuk mengenang nama guru ayahnya di Palembang dengan nama Kyai Zainal Abidin, pada usia 8 tahun beliau diantar ke Bagelan untuk berguru kepada sahabat kakeknya yang bernama Kyai Hanggomaya. Selesai berguru pada usia 14 tahun, dan mengabdi ke Paku Buwono II ketika masih di kraton Kartosuro, Pada masa perpindahan kraton ke solo, beliau ditunjuk untuk mencarikan tempat, beliau menunjukkan di desa Sala yang berdampingan desa Tala Wangi tepatnya di rawa-rawa yang dikenal dengan kedung Kol atau dinamakan Kedung lumbu, sekarang namanya menjadi Desa Kedung Lumbu, beliau mengabdi sampai pemerintahan Paku buwono IV. Sebagai abdi dalem kabupaten, beliau bertempat tinggal di kedung Kol atau Kedung Lumbu, sampai sekarang tempat sekitar beliau bertempat terkenal dengan nama Yoso Dipuran.









Prabu Sri Mangkurung Handayaningrat


Nama mudanya Joko Sengoro karena berjasa kepada Raja Majapahit Browijoyo V menemukan anaknya Ratu Pembayun yang di culik Menak Daliputih anak dari raja Blambangan (Banyuwangi) Minak Jinggo. Karena berhasil menemukan dan berhasil membunuhnya Joko Sengoro diangkat menjadi raja muda atau adipati di Pengging dengan memakai gelar Sri Makurung Handayaningrat.






Makam Noto Puro



Makam ini terletak di desa Gumulan, kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, semasa muda terkenal dengan nama Pangeran Noto Puro, anak Paku Buwono dari Kasunan Surakarta, beliau semada muda sudah senang bertapa dan menjalani ritual bertapa, sudah menolong sejak kecil dan berbaur dengan masyarakat kecil, seorang yang dermawan dan sakti. Sampai beliau diangkat menjadi raja saja tidak mau, karena misinya menjadi orang yang dekat dekat rakyat dan menjadi seorang pertapa saja, beliau tidak mau menikah sampai akhir hidupnya. Ketika ayahnya memaksa menjadi raja beliau tidak mau sampai ditanya kalau jadi pertapa punya apa, hanya jadi rakyat miskin dan tidak punya apa-apa, beliau menjawab kalau saya mau sekejab mata apa yang dia inginkan bisa terlaksana. ketika raja meminta emas, beliau memerintahkan membuat kotak kubus yang sisi-sisinya sepanjang pegangan tombak berjumlah 3 kotak. setelah selesai dia bersemedi, ketiga kotak tersebut sudah terisi emas semuanya dengan penuh, walaupun demikian ayahhandanya masih memaksa untuk menjadi raja, karena tidak suka dan tidak menemukan kebahagiaan kalau menjadi raja, beliau memilih meninggalkan dunia saja, beliau bersemedi dan tidak lama sudah meninggal dunia.
Bangunan ini dipasang pondasinya dimulai menurut penanggalan jawa, 15 sawal  tahun Dal, 1963, pada hari sabtu legi. Berdirinya bangunan Cungkup atau rumah makam pada hari rebo pon, tanggal 18 Dulkangidah 1863, sinengkalan "Uningo rasaning sari tunggal".









Makam Kyai Ageng Kebo Kenongo


Kyai Ageng Kebo Kenongo adalah adik dari Kyai Ageng Kebo Kanigoro yang dimakamkan di desa Samiran lereng gunung Merapi, Beliau anak dari Kyai Ageng Pengging Sepuh yang berjuluk Prabu Sri Mangkurung Handayaningrat, semasa hidupnya beliau mendapat bimbingan ilmu dari Syech Siti Jenar, menikah dengan kakak perempuan Kyai Ageng Butuh dan mempunyai anak Joko Tingkir atau Mas Karebet dan menjadi raja kerajaan Demak Berjuluk Sultan Hadi Wijoyo yang menikah dengan Retno Pembayun putri dari Sultan Trenggono. Kyai Ageng Kebo kenongo meninggal karena penyerbuan pasukan Demak atas pimpinan Sunan Ngudung atau syech jafar sodik atau yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus, menurut serat pitutur beliau meninggal bukan karena dibunuh Sunan Kudus tapi meninggal dengan kehendaknya sendiri karena diberi pilihan yang sangat sulit, ingin keluarganya yang selamat atau dia yang selamat. Sunan kuduspun tidak berhasil membunuh beliau, dengan mengambil jalan kebijaksanaan beliau bersedia mati demi rakyat Pengging dan keluarganya, karena murid Syech Siti Jenar beliau bisa meninggal seperti gurunya dengan cara mengracut jiwanya sendiri, Pengging diserang Demak dalam legendanya dikarenakan beliau mengikuti ajaran Syech Siti Jenar yang dianggap mempunyai aliran sesat, walaupun sebenarnya Syech Siti Jenar sangat menekuni ajaran kemakrifatan yang bisa menerima ajaran tersebut adalah orang-orang yang sudah dalam didalam pergelutan pengolahan rasa dan beliau tidak mengurusi politik karena terlalu sibuk mengurusi rasa untuk mencari jati dirinya yang sejati, tapi sebenarnya itu adalah bahasa politik yang ditiupkan kepada masyarakat untuk mendapatkan dukungan moral untuk melakukan tindakan. Murid Syech Siti Jenar yang menjadi Kyai Ageng hampir tersebar menyeluruh di Pulau Jawa, di takutkan karena pengaruhnya yang luas akan mendirikan kerjaan baru, dan yang menjadi sasarannya adalah Kyai Ageng Kebo Kenongo karena beliau adalah anak keturunan Brawijaya V, yang notabene ditakutkan akan mendirikan Majapahit tahap kedua.








Kyai Khotib Imam 'Arif

Makam Kyai Khoyib Imam 'Arif, terletak di kampung  Mojo, dea Tegal Rejo Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, dulu merupakan bumi perdikan pemberian dari Paku Buwono IV, desa tersebut terletak ditengah-tengah sungai  yang bertemu di hilirnya, beliau adalah guru dari Pangeran Diponegoro, selatan desa ini ada sebuah perkampungan kecil yang bernama kampung Tumpuk, dinamakan itu karena semasa Belanda menyerbu kampung mojo, banyak tentara belanda yang mati dan ditimbun ditempat itu orang jawa menyebutnya di tumpuk. Beliau bisa menjadi guru Pangeran Diponegoro dengan mengadakan sayembara dulu, siapa yang menang akan menjadi gurunya. sayembaranya dengan mengadakan petak umpet, Pangeran Diponegoro bersembunyi dahulu, tapi bisa cepat tertangkap, kemudian Kyai Khotib Imam'Arif yang bersembunyai, selama 3 hari Pangern diponegoro mencari tapi tidak ketemu, ketika beliau bingung mencari, ada suara Kayai Khotib yang memanggilnya tapi tidak ada ujudnya, itu terjadi berulang-ulang selama 3 hari, setelah pangeran Diponegoro menyerah, kyai Khotib baru kelihatan didepannya, beliau mengatakan kalau bersembunyi di lampu Masjid. Sejak itu Pangeran Diponegoro berguru dan belajar ilmu agama Islam kepada Kyai Khotib Imam'Arif,  Salah satu putera beliau yang bernama R Muslim Muchammad Cholifah yang terkenal dengan nama Kyai Mojo, ikut perang bersama Pangeran Diponegoro sampai ikut dibuang di Pulau Sulawesi dan ikut dimakamkan di kampung Jawa Tondano,
Kyai Khotib Imam 'Arif terkenal juga dengan nama Kyai  Imam Abdul Arif atau Kyai Baderan I, beliau juga keturunan dari Pajang, meninggal pada tahun 1820, mempunyai istri bernama RA Mursilah, RA Mursilah adalah putri RA Mursiyah, saudara RA Mursiyah adalah Hamengkubuwono III, Pangeran Diponegoro adalah adik sepupu dengan RA Mursiyah, Selain kyai mojo, beliau mempunyai anak diantaranya, Kyai Wira Patih(kyai sepuh, kyai baderan II), Kyai Hasan Muhammad, Kyai Hasan Besari, RA Marwiyah, Nungali, dan Murdoko. 





















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar