Minggu, 06 Maret 2016

MATAK AJI GINENG SAAT GERHANA MATAHARI

MATAK AJI GINENG SAAT GERHANA MATAHARI MATAK/MATEK dapat diartikan konsentrasi, AJI dari kata SAWIJI yang artinya menyatukan, GINENG dari kata maliGI meNENG, MALIGI atau mligi artinya hanya satu bab atau satu jalur, MENENG artinya diam. Maksutnya konsentrasi menyatukan cipta rasa karsa untuk satu tujuan mencapai tahapan diam. Sakjeroning NENG dumunung NING, sakjeroning NING dumunung NONG. NENG dari kata MENENG yang berarti diam, kalau sudah diam maka akan mengendap ke bawah, seperti pikiran segala macam harus diendapkan, disadari diteliti dengan cermat, dipilah satu persatu, satu demi satu, detik demi detik selalu di sadari. Setelah mencapai NENG maka akan menjadi NING dari kata WENING atau BENING yang berarti hening, contohnya gelas yang terisi air yang kotor, setelah gelasnya diam, maka airnya tidak beriak, didalam gelas airnya tidak mempunyai daya arus, maka kotoran akan mengendap ke bawah, riak dan arus air ini seperti jalannya pikiran, kerikil turun kebawah dulu, beban yang berat dan besar akan mengendap duluan, akan disusul kotoran-kotoran menengah sampai terkecil, semakin lama proses diam akan semakin jernih air didalamnya, hingga batasan air dan gelas sudah tidak nampak batasannya, kalau dilihat tidak ada atau kosong, tapi kalau dirasa ada isinya, ini karena saking jernihnya air. Setelah NING atau WENING akan NONG, NONG dari kata DUMUNONG, yang berarti semeleh atau bertempat ditempatnya, mudahnya kata menyadari semuanya, sudah tidak ada hambatan, ora samar ing ghaib, atau tidak samar dalam keghaibpan, karena sudah mencapai kejernihan. Terkenalnya dengan kata waskitho atau waskita. Aji gineng orang senang kesaktiannya, bisa ini dan itu, tapi ada lebih banyak manfaatnya dari cuma gur sakti, yang kalau tidak kuat mengendalikan keinginannya akan membelenggu hidupnya, jamanne wis seneng demonstrasi, setelah itu paling tidak dipuji, di sanjung, bahkan memperangkap orang. Sedangkan dibalik itu adalah proses pencapaian keselarasan, kesadaran dan keseimbangan totalitas. Karena ketika sudah tidak samar dengan ghaib maka akan menjadi peka, tajam pengklihatan batinnya. Aji gineng ini terkenalnya kalau sudah menyatu akan bisa mengetahui bahasa binatang. Menurut saya kok tidak cuma bahasa binatang, tapi bahasa tumbuhan bahasa angin, bahasa bumi, langit dan lainnya yang ada di alam, hanya keterbatan akal dan fikiran saja yang membekenggu dan membatasinya, dengan keterbatasan ini sering menimbulkan riak-riak masalah yang hanya berujung pada perdebatan pandangan karena cara memandang dengan sisi yang tidak sama, karena perjalan hidup selalu berbeda walaupun akan menemukan persamaan-persamaan pendapat karena sudah menemukan titik yang mirip atau mendekati persamaan, jadi rasa dipengaruhi perjalanan pikiran dalam penjelajahan ruang dan waktu. Setelah rasa menjadi peka, angin yang berjalan terasa, deburan ombak terasa, derasnya arus terasa, panas dan dinginnya siang dan malam juga terasa. Seperti halnya nanti pas gerhana matahari, rasakan saja sensasi pemotongan medan magnet antara matahari dan bumi oleh bulan, lecutan, getaran, loncatan energy yang melompat-lompat, haris medan magnet yang terputus dan menyambung seperti halilintar yang menyambar tiada henti, mungkin tidak semua bisa melihat dan merasakan, karena membutuhkan kepekaan. Beda pendapat itu wajar karena pengalaman hidup juga berbeda, kenapa tidak mencoba untuk merasa, mungkin bisa akan terasa.....walaupun sekecil apapun..... Semua yang ada di puncak akan tenggelam, yang tenggelam akan bangkit dari kegelapan, semua yang terang selalu ada sisi gelapnya, yang gelap ada sisi terangnya. Ketika mencapai matahari total, toh tidak akan gelap gulita seratus persen, dipinggirnya akan banyak sinar yang terang, mungkin merasa sangat terang dan benderang, toh manusia selalu diikuti bayangannya yang selalu gelap, nyate wis gandengane urip yang keno pisah, terangnya setelah dapat penerangan di rasa dalam rasa bukan di rasa inderawi. Didalam gelappun kita akan ada penerangan, karena yang tidak terlihat oleh mata akan bangkit dan menjadi lebih peka dan bekerja maksimal. Indera perasa, pencium, pendengar dan lainnya. Boleh mau coba....kalau belum pernah makan gula tak akan merasa manis, belum makan garam tak akan tahu asin, kalau sudah makan semuanya tapi tak terasa apapun berarti sudah mati rasanya....jelas tidak peka sama sekali....

Jumat, 04 Maret 2016

AJI PANCA SONA

PANCA SONA

Panca itu lima, Sona bisa dikatakan emas. Aji Panca Sona menurut para ahli supranatural termasuk aji yang sangat sakti, dari Subali sampai Rahwana memilikinya. Badan terbelah, tangan putus atau apapun itu ketika menginjak bumi, maka akan cepat pulih dengan sendirinya.
Kita berfikir dengan cara yang berbeda, tapi melihat dengan sisi yang lain, bukan kesaktiannya tapi melihat dengan kesadaran diri.
Toh betapapun saktinya, sang pemilik akan mati juga.
Melihat sesuatu tidak dengan sudut lima mata arah angin, atau lima unsur. Akan tetapi melihat dengan kebulatan pemahaman secara utuh, tidak dengan ukuran sudut tertentu. Inilah yang saya maksut melihat, memahami, mengetahui dan melakukan tahu betul sebab musabab dan akibatnya.
Ketika orang sudah diambang kesombongan akan kemampuan diri, bisa dari kekayaan, ilmu pengetahuan, pangkat derajat atau apapun, seakan orang berdiri tanpa pijakan, mengambang di awang-awang, setelah mengambang disinilah banyak kelemahan. Mudah goyang juga mudah jatuh terhempas dengan hebat, ketika orang dalam puncak kemampuan diri, kadang hilang kontrol akan dirinya, disanjung, diiming imingngi yang menggiurkan, akan mudah terpengaruh dan terperosok, karena berkurang atau hilangnya kesadaran untuk berfikir secara jernih dan utuh. Kalau disebut lupa diri, lupa dia berpijak dimana, dimana bumi di injak disitu langit harus di junjung, jadi semua butuh keseimbangan, ketika hilang keseimbangan maka akan mudah oleng.
Pancasona mengajarkan selalu kembali ke bumi, atau kembali ke kesadaran diri untuk mencapai proses penyeimbangan. Jadi intinya bukan kesaktian, tapi kesadaran diri, kalau sadar akan lebih terkendali, jalan menjadi kebih terang, sekti tanpo aji, mandi tanpo mantra, ngluruk tanpo wadyo bolo. Ora gumunan, ora kagetan, ora kesedihan, ora kesenengen, jadi tidak heranan, tidak kagetan, tidak sedih berlarut larut, tidak terlalu senang tanpa batas. Jadi diajarkan kita untuk selalu menyadari dimana, kemana, kenapa, mau apa, yang intinya Pancasona mengajarkan kita selalu untuk mencapai kesadaran dan keseimbangan.

Minggu, 21 Februari 2016

BERGURU PADA AIR

BERGURU PADA AIR



Mari berguru pada air, karena ia memilih mengalir, menembus kokohnya pengunungan yang hatus dilewatinya untuk mencapai hilir, airpun bisa mengikis batu karang yang keras, ia lembut dan kelembutannya adalah kekuatan.
Ia yang kuat memilih bertindak tanpa kekerasan, suatu tindakan yang membutuhkan nyali, karena tidak banyak orang yang memilihnya.
Berguru pada alam yang selalu jujur, apa adanya, yang selalu dinamis mencari kesetimbangan.....

Kamis, 14 Mei 2015

ENTHIK-ENTHIK


ENTHIK-ENTHIK


Pitutur Piwulang Jawa ing tembang macapat Asmaradana


“Dongeng Enthik-Enthik”


Ana dongeng enthik-enthik

si penunggul patenana

penunggul apa dosane?

ngungkul-ungkuli sasama

aja dhi mundhak kuwalat

lhah iya bener kandhamu

lali sumber katiwasan


Tembang ing dhuwur wosing ngandhakake driji manungsa. Driji manungsa kuwi ana lima, jempol kuwi paling cendhak tur lemu dhewe, panuding (telunjuk), panunggul sing dhuwur dhewe, manis (jari manis), lan jenthik sing cilik dhewe.

Panunggul iku diarani anak nomer siji, manis nomer loro, panuding nomer telu, jenthik nomer papat, lan jempol kang pungkasan. Kabeh driji lima mau sedulur.


Sawijining dina Manis rumangsa serik atine jalaran kalah dhuwur tinimbang Panunggul. Mula banjur ngajani Jenthik mangkene.

“Enthik-Enthik, si Panunggul patenana!”

Jenthik takon, “Panunggul apa dosane?”

Diwangsuli Manis, “ngungkul-ungkuli sasama.”

Karepe, ing antarane driji lima mau Panunggul katon umuk dhewe jalaran gedhe dhewe lan dhuwur dhewe.

Panuding ngelingake, “aja, Dhi! Mundhak kuwalat.”

Jempol banjur nyambung rembug, mbenerake Panuding, “lhah, iya bener kandhamu, lali sumber ketiwasan.”


APA TA PIWULANGE?

Candhake cekak aos. KUWALAT. Kok bisa?

Tiyang Jawi kuwi kebak ing simbol, tegese yen wicara apadene ngandhani ora apa anane, mawi simbol-simbol. Ora teges kok basa-basi, nanging ngajeni tumraping liyan, tansah jaga atine liyan supaya ora “mak jleb-jleb” yen para mudha ngarani. Saking njlimete piwulange akeh sing ora mangerteni tegese, amargo ora cukup dipikir nanging kudu disemak surasane, banjur dirasakake, yen ditompo opo anane malah keblinger, nanging kudu karoso, yen wis mangerteni supoyo ora gampang lali, menowo gur di omongake terus terang biasane gampang lali amargo ora mandes teko rosone.

Ing crita iki, manungsa kuwi diumpamakne driji lima (simbole driji lima). Diandharake menawa wani karo sedulur tuwa kuwi bisa kuwalat. Ora mung sedulur tuwa, wani marang wong atuwa uga bisa kuwalat. Kuwalat, ora malati. Sejatine Ibune Malinkundhang kae ora malati, nanging Malinkundhang entuk piwales siksa saka Gusti Kang Maha Kuwasa utawa Allah SWT. Sopo sing gawe bakal nganggo, sopo sing utang bakal nyahur, sopo sing nyilih mbalekake. Sopo sing gelem mangan pedes yo kudu gelem ngrasakake pedes, sopo sing mamah uyah yo kudu gelem ngrasakake asine....

Sabtu, 09 Mei 2015

SUWUNG (KOSONG)

SUWUNG (KOSONG)

Jroning rasa dumunung suci, jroning suci dumunung langgeng, jroning langgeng dumunung suwung, jroning suwung hana, artine: rasa kuwi suci, ora gelem ngapusi, ora gelem goroh, upama rasa legi yo legi, upama rasa pahit ya pahit, karana rasa kuwi suci, rasa kedunungan langgeng, ora owah gingsir, tur ora wujud, amargo duwe sipat kedunungan suwung, manawa bisa suwung lagi hana, tegese ana tuduhing pangeran kang katampa dening si aku lumantar rasa.   Iki wong sing ngarani mati sakjroning urip, urip sakjroning mati, bisa nampa tuduhing pangeran ora lewat pikiran nanging lumantar (wasilah) rasa jati, mulane aja ndhisikake karep nanging ndhisikna rasane.
Mencapai puncak adalah ketika sudah mencapai kekosongan, mencapai tersebut tidak mesti harus bermeditasi dengan duduk lama, akan tetapi cerminan bisa dilihat dalam perilaku sehariannya yang baik, sesuai dengan hati nurani, ini yang kami maksut dengan topo ngrame, atau bertapa dalam hidup keseharian, bertapa digunung, di sungai atau di samudra akan lebih ringan daripada bertapa di tengah masyarakat, dengan banyak godaan yang besar, ini lah pertapaan yang luar biasa berat, banyak wanita cantik, harta bahkan lainnya yang menggahirahkan, topo ngrame juga bisa dikatakan topo selama hidup, tidak usah mencari suwung, kalau sudah bisa menata hidupnya akan menemukan suwung dengan sendirinya...

Selasa, 25 Maret 2014

WAHYU RATU



WAHYU RATU



Ono sakjeroning alam moyo, ono suworo kang cetho nanging ora soko kuping, sakjeroning suwung terus ono kahanan : wahyu ratu kang dumunung ono Prabu Joyo Boyo, Ratu Karitin, kang jumeneng Ratu ono keblat papat, lan kang ngiring ratu papat, ….

Ini  yang saya dapat sekilas tanpa saya minta, ada tuduh seperti itu, kadang kita tidak minta tapi Tuhan akan memberikan secuil pengetahuan untuk kita fikirkan. Kalau jaman Gus Dur dahulu, orang yang menjadi  Ratu harus kedunungan atau dianugerahi  wahyu Ratu,  kriterianya orang tersebut harus  mempunyai perilaku lima perkara yang harus dilakukan, karena tidak ada yang mudah dan gampang.  Orang bisa disebut Ratu bukan hanya yang memakai mahkota atau peci kebesaran dan menempati puncak kekuasaan didalam suatu Negara, lebih baik lagi sudah memakai mahkota dan berperilaku baik juga. Wong kang kedunungan ora mesti kanggone wong kang duweni makutho, ratu kang tanpo makutho kang jujur temen iklas sabar ngayomi lan adil poromarto, lan ratu kang tanpo wahyu ratu mahanani  alaming horek lan akeh prahoro ono ngendi-ngendi.

Sabtu, 11 Januari 2014

3 ALAM MANUSIA

3 ALAM MANUSIA



DUMADINING MANUNGSO ONO TELUNG ALAM

Manungso mapan ono telung alam, yoiku :
  1. Alam roh utawa alam kandungan
  2. Alam donyo utawa alam peteng
  3. Alam sepi utawa alam akhir

Alam roh utowo alam kandungan .

Alam roh utawa alam padhang ugo diarani alam panyobo, yaiku alam nalikane manungso isih ana sakjroning kandhungane ibune, dadi cethane dene alam kandungan diarani alam roh, alam padhang ugo diarani alam panyobo :
a.    Alam padhang : ing kene si aku (wiji) wus nompo janjining urip kang awujud : polah, prenah lan panembah kang tegese makaryo, yaiku makaryaning manungso wus kawiwitan ana sakjroning kandhutan ibu, yaiku sakwuse nampa janjining urip saka pangeran.
b.    Alam padhang : diarani alam padhang ngemu teges mangkene : ijen tan sepi, rame tan ono rowang, lungguh tan sundul, turu tan nglilir, luwe pangan sinanding, wareg tanpo ono anane suci, ing sakjroning alam iki rasa limo runtut, piranti papan rukun, yaiku kang diarani rukun kang sejati….mulo biso nampa dhawuhing urip kang awujud janjining urip.
c.    C. alam panyobo : diarani mangkene menawa ana ing alam kandhungan iki akeh pacobaning  ratu, mamprih si wiji ora dadi lan lestari, menawa wiji ora biso dadi lan lestari, iki den arani roh rusak, wurung utawa lahir sak durunge titi wanci, roh kang rusak iki ora biso bali marang asal usul, awit during biso genep anggone nindakake janjining urip
Sak banjure wijining manungso iku ana loro, yaiku : wiji kang wujud lan wiji kang ora wujud. Wiji kang wujud yaiku wiji kang nyawiji karo piranti kang dumunung ana wanita, diarani aku. Wiji kang ora wujud yaiku wiji kautaman kang dumunung ana manungsa, wiji kang ora wujud iki bisa thukul lamun manungsa nindakake janji kang ditampa sadurunge dumadi kanthi sujud marang pangeran lumantar urip.
Wiwit tumetesing wiji kang nyawiji marang si wadhah kang dumunung ana wanita, sangu lan prabot paringing pangeran kapurbo urip, sorot pirantining naluri cumithak. Sorot piranti naluri iku tembe mahanani  dadi : watak, kelakuan, solah bowo, perilakuning manungsa. Mangertenono senadyan tunggal wadhah, ugo sing dadi lantaraning wiji padha, durung mesthi perilaku, solah bowo, watak lan sipate padha, awit pirantining naluri sing endi kang sumorot, menowo pirantining naluri kang sumorot mau watak utomo, manungso kang kadunungan piranti kang utama mau ing tembe handuweni watak kang utama.
Sorot pirantineng naluri kang awujud kadigdayan serto kanuragan, handayani marang kasorot nuwuhake watak kang kumingsun, kumalungkung, adigang-adigung, seneng diugung, kanthi iki wataking manungsa gumantung pirantining naluri kang sumorot.
Sak durunge manungsa lahir wis nampa janji saka urip kang wajib ditindakake, senadyan isih ana alam kandhungan, janji saka kang wijib ditindhakake mau ana telung perkara :

1.    Manembah marang pangeran lumantar urip
2.    Ngopeni turun
3.    Makarya

Janjinng urip telung perkara iku ora kena kapsah-pisahake, lire menawa manembah marang pangeran aja lali kanggo ngopeni turun, menawa makarya tansah lelandhesan rasa manembah mamprih pikolehe biso kanggo ngopeni turun, menawa ngopeni turun kang linambaran rasa manembah serta makarya. Manungsa nalika ana alam kandungan wus dipiranteni sarwa gene plan pepak,lan uga wus nampa janji saka pangeran, nanging isih handuweni rong prakara kang wajib ditindhakake, yaiku :

1.    Wajib nindakake janji kang wus ditampa saka urip, senadyan mung polah lan prenah.
2.    Wajib lahir ana alam dinyo iya diarani alam peteng utawa alam owah

Manungsa nalika ana ing alam kandhungan wis nindhakake janji kang ditampa saka urip, kacihno polah lan prenah kang diarani makarya, lire polah :  anane  anane mobah lan music, lire prenah yaiku wis mangerteni dalane panembah lan sopo kang disembah. Alam kangdungan biso diarani alam panyobo, lire : ana alam kandhungan iki akeh panyobaning ratu, mamrih wiji ora biso dadi lan lestari, menawa ora dadi lan lestari diarani wurung utawa roh rusak, lair sak durunge titi wanci, lan ing tembe wiji mau ora bisa bali marang asal-usule, ateges ora bisa sampurna, maksute ora bisa sampurna yaiku :

1.    Durung bisa nindakake janji kang ditampa saka urip kanthi wutuh lan genep, serto durung ngopeni turun.
2.    Durung nampa/entuk sambat saka pangeran.

Karana durung nindhakake janji kanthi wutuh serta durung antuk sambat saka pangeran, mula si wiji ora bisa bali marang asal-usule, manggon sak enggon-enggon ing ngendi papan, anut lakuning piranti. Anane wiji ora bisa dadi lan lestari amarga :

1.    Ngundhuh pakartining piranti
2.    Ngundhuh pakarti?tumindake wong tuwane
3.    Aboting panandhang wong tuwa kang lagi ngandhut
4.    Ora kuwat nampa pacoban kang ditampa utawa kang den diadhepi.

Alam donyo utawa alam peteng
Alam donyo uga diarani alam peteng uga diarani alam owah, alam owah tegese ana ing alam donya iki manungsa tansah owah gingsir, kabeh titahing pangeran ora langgeng,lumaku anut kodrate dhewe-dhewe, alam peteng tegese : bedo, belo lan kalunta-lunta, awit manungsa kagubel ananne piranti, si aku ora mangerteni dalane panembah lan ora mangerteni sapa kang wajib sinembah.

Manungsa ana ing alam donya handuweni kuwajiban nindakake janjining urip kang ditampa sadurunge dumadi, dene janjine urip iku ana telung perangan yaiku :
1.     Manembah marang pangeran lumantar urip
2.     Ngopeni turun
3.     Makarya
Sakabehane gegayuhan marang kautaman kang bisane warata maratani sekabehaning iku akeh pacobanig ratu, semono ugo manungso kang ana alam donyo, anggone nindakake janjine urip supoyo bisa bali marang asal-usul kang sejati ugo akeh pacobaning ratu, pacobaning ratu kuwi biso tumanduk  awit saka pakartine piranti, senadyan piranti wis kakulinakake bebarengan manunggal, naming ana kalane kalamun kapethuk kahanan kang abot, salah sawijining kuwi nyaru wuwus agawe kisruh nganti kahanan dadi tambah ruwet. Menawa kurang prayitna lan kurang teguh keyakinane bisa tumindhak nalingsir saka penataning pangeran temah dadi bubrah. Kanggo nanggulangi pamothahing piranti hamung tansah eling, sumangga nglenggono, ngrumangsani lamun manungso hamung titah sakwantah, piranti kang mothah tansah rebut deg, bebasan sapa dhoyong di bopong, lali ing pangabekti. Mula diati-ati marang pakartining piranti kang handuweni watak : 

  1. Lali ngabekti marang gusti, utawa ngabekti kanthi pamrih, dadi kesasar marang tujuhane, nindakake panembah marang gusti ora dilandesi rasa iklas lan pasrah kang satuhune, iki dadi rumponing durjana juti, temahan keduwung mburi, ing mburi ora ngerti, bisane mung melu payu, beteke bisa udhu, bener luput ora di piker kagowo deranging karep.
  2. Sudiro prakoso jaya,  lagi duwe panguwasa gelem dumindak angkara saka panguwasane, wekasane tinemu gelo, bisane mung nucuh tangga, apa dene kulawarga, murang tata ambeg daksiya wekasaning tinemune gela lan cuwa.
  3. Lamis kanthi tembung lamis, gedhe-gedhene mung nangis kang bakal ngundhuh kabeh turun kang ora bisa rukun.
  4. Seneng ngudi jaya kawijayan, guna kasantikan, gedhe pidanane tumprap sapa-sapa kang hanggedhekake panguwasane, kasandhingnging jaya hamung jayaning kumara seta, wong jaman sak iki wong kang ngagulake lakune khodam utawa sakhehing bongso titah alus.
Menawa si aku kagubel waris papat (piranti) iku mahanani rendhete si aku anggone manembah mring suwung, waris papat kuwi purbanen (kuwasanana) lan oncatana (dohono), ing kono si aku dumunung ana langgeng. Menawa rasa langgeng wus ilang ing kono kang ana hamung suwung, suwung iku ora bisa dirasakake, ing kono pangeran murba jagad saisine. Si aku kang kadunungan piranti paring pangeran, uga kasorot dening pirantining naluri awit ana alam kandhungan, piranti naluri kuwi luwih angel katata, angel diupakara, akeh-akehe ngreridu, gawe ribet seneng dhedheple murih di glape, apa maneng  sapa-sapa kang ngudi Ingsun, pirantining nalri padha ngrubung, padha butuh srawung supaya kapetung, nanging senenge hambebidung agawe bingung. Lamun kurang pangabektine, anane hamung goreh, sarwa samar, gampang ngglewang satemah nunjang palang.

Kahanan kaya ing ndhuwur iku ora perlu wedi apadene samar, elinga lan manunggalo nyuwun tuduhe, nyuwun rahayu, pangeran bakal paring pepadhang. Gedhening pangabekti mahanani akune naluri kang isih kagubel dening piranti, kepingin ngayom butuh dipapanake, kang bisa mapanake naluri hamung turune kang panembahe kanthi aku nunggang rasa ngadhep urip, mula lamun antuk panyoba, nyuwun tuduhe apa lan kepriye dhawuhe banjur katindhakna.

Alam sepi utawa alam akhir

Pangajabe manungsa sak uwise rampung kewajibane ana alam donya, bisa bali marang asal-usule, nanging ora bisa awit manungsa lair ana alam donya wis anggawa dosa, kang den arani dosa asal yaiku :
  1.  Si aku kadunungan piranti lan prabot
  2. Dosa ngundhuh pakartining piranti
Awit saka iku manungsa sawise rampung kewajibane ana alam donya ora bisa terus bali mring asal-usul. Pisahe urip, aku lan raga ikukang den arani pungkasaning kewajibane manungsa ana alam donya, yaiku oncating si aku lan urip saka raga. Piranti lan prabot ish anggubel si aku, ing kono si aku isih rumangso kaya isih urip ana alam donya, oncate piranti saka pangeran (waris papat) gumantung labete si turun. Menawa si turun ngabekti ora kanthi aku nunggang rasa ngadepurip, tangeh piranti bisa uwal panggubele, yaiki kang diarani nglakoni dosa asal.  Manwa pisahe aku-urip-piranti isih ana alam kandhungan (alam roh), si aku ora bisa bali marang asal-usul, sebab rusaking wadah isih ana alam roh, ya iki kang den arani roh rusak, mapane ana ngendi papan (sa enggon-enggon). Menawa pisahe lagi lahir ana alam donya, iki ora bisa bali, awit durung bisa labet serta manembah.
Menawa manungsa mau wis rampung kewajibane ana alam donya, iki gumantung pangabekti lan panembahe nalika urip ana alam donya, menawa nalikane urip ana alam donya manungsa mau ngudi jaya kawijayan, baline katut sing diudi/diyakini, menawa manungsa nindakake urip golek lambaran murih gampange rejeki, iki ya ora bisa bali marang asal-usul, nanging baline katut sing dijaluki/lambarane, ya katut piranti papat mau (waris papat), kabeh mau kena diarani kalap amargo baline ora marang asal-usul.
Kahanan kaya mangkono kuwi tergantung turune kang ish anan alam donya, kang handuweni kewajiban mapanake wong tuwa lan naluri kang wus ana alam sepi, karana pangabektine turun kanthi temenan anggone nindakake janjining urip serta hangghedhekake labet (nyambut gawe tanpo pamrih) kanggo mapanake naluri, piranti lan prabot si naluri bisa bali marang asale piranti. Menawa aku lan piranti wus pisah, si aku lan rasa lagi bisa mapan, si aku wis tentrem.  Menawa aku-ne naluri wis tentrem, si aku-ne naluri bisa labet marang turune, lire soroting katentremane si naluri bisa sumorotmarang turune kang handayani marang katentreman, menawa sing dilabeti  naluri wus rampung kewajubane ana alam donya, si aku-ne naluri kang labet mau katuntun dening uripe sing dilabeti bali marang asal-usul.
Dene rasa, bali marang asale yaiku alam, ya kahanan kaya mangkono iki sing diarani sampurna. Menawa manungsa nalika uripe pangabektine marang pangeran lumantar urip (aku nunggang rasa ngadep urip), durung bisa kapesthekake bali mring asal-usul, awit menowo anggone nindhakake janjining urip isih tumpang suh rasanem wekasane kaleru kang disembah, yaiku maha suci lan roh suci.




Kasampurnan
tegese sampurna bali marang asal usul, bali marang kang anitahake yaiku pangeran utawa sang suwung, gandheng wijining asale saka pangeran, mula iya bali nyawiji marang pangeran, menawa wiji (si aku) bali nyawiji marang suwung, sekabehaning pirantining manungsa paringing pangeran bali marang asale dhewe-dhewe, asale piranti. Piranti paringing pangeran kanga sale saka alam, bali marang alaming piranti, kasampurnan dadi biso kaperang dadi loro :
1.    Kasampurnaning sejati, tegese wiji saka pangeran katuntun urip bali manunggal mring pangeran (suwung).
2.    Kasampurnaning piranti, kaperang dadi loro maneh :
1.    Piranti paringing pangeran (waris papat lan prabot)
2.    Piranti kanga sale saka anggone nglakoni utawa tapa brata, iki uga kabagi dadi loro maneh :
a.    Panembah kang adhedasar waris papat menawa ing tembe rampung kewajibane ana alam donya, kang nuntun waris papat, baline katut mring alame waaris papat.
b.    Panembahe kang adhedasar ngelmu (nglakoni, topo broto), menawa ing tembe rampung kuwajibane ana alam donya baline ing tembe si Aku katuntun dening Jim/ngelmune baline marang asale jim/ngelmune.
Menowo soko pratelan soko duwur, senadyan tembunge kasampurnan utawa sampurna, iku ora bali marang asal-usule, awit sapa kang ora manembah lumantar akununggang rasa ngadhep urip ora bisa bali mring asal-usul, yaiku kang den arani kalap, kamongko ajaraning urip nenuntun marang manungsa supaya ing tembe lamun wis titi wanci rampung kuwajibane ana alam ndonya, mamprih bisa bali mring asal usule, menawa siro aku datan nunggang rasa ngadhep urip aja ngarep-ngarep baliniro, kanthi dasar iku, menawa anggone manembah ora kanthi nunggang rasa ngadhep urip, si aku ora bisa bali mring suwung utawa ora bisa bali mring asal-usul, senadyan manungsa wus nindakake manembah kanthi nunggang rasa ngadhep urip durung kapesthen lamun bisa bali mring asal-usul (suwung), sebab kala mangsane rasane ora jumbuh nanging tumpang suh.
Menawa tataraning rasa anggone manembah tumpang suh, si aku ora krasan lamun menggok tumuju marang Roh suci lan Maha suci, lire Roh suci ateges Ingsun lungguh ana aku, rasa lungguh ana langgeng, lire Maha Suci ateges Ingsun lungguh ana piranti, aku ana langgeng, supaya ora tumpang suh gladinen kanthi tekun lan tawakal, lire ora tumpang suh : aku rasa lan langgeng mapan panggonane dhewe-dhewe kanthi : aku lungguh ana rasa, Ingsun ana langgeng, yaiku kan diarani rasa tumpang suh, yaiku kang bener lan pener.

Ora ngemungake aku nunggang rasa ngadhep urip bae, nanging kudhu dibarengi tumindak adedasar budi luhur, budi luhur yauku tumindak utawa makarti, ngedhika apa wae kanthi watak kang utama lelandhesan eling marang kang gawe urip iya kang akaryo jagad.
Dene watak kang utama yaiku :

  1. Ing kene padha ing kana ora bedo, tegese pamicara, tumindak ing kene ya ing kono ora bedo yaiku jumbuh lahir lan batin
  2. Tan kewran ngadhepi apa bae awit tinata ing Gusti, tegese wis katata dening Gusti ngadepi  apa bae ora miring, ditampa apa anane, gampangake tembung iklas
  3. Prasaja ginawa boga, timbang mlebu metune, menawa nampa kudu ngguwang.
  4. Tan mbedahak-mbhedakake siji lan sijine, kuwi sapa lan apa, sugih miskin, drajat pangkat
  5. Empan papan miturut kahanan
  6. Sapa salah ditadhah, sapa bener dadi pager utawa panutan
  7. Lali aja dadi wali tegese ora tumandang alesan lali.
  8. Suka torah kurang wadhah, suthik karoban suka kurban.